Tambak Dikembalikan Jadi Mangrove, Hasil Panen Petambak Berau Jadi Meningkat

oleh -14 views
oleh

Berau,SuaraBerau – Paradigma lama yang menganggap semakin luas area tambak akan menghasilkan panen lebih besar mulai berubah di Kabupaten Berau. Melalui penerapan metode budidaya ramah lingkungan dalam program Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE), petambak justru mampu meningkatkan produktivitas meski sebagian besar lahannya dikembalikan menjadi kawasan mangrove.

Program yang dikembangkan di sejumlah wilayah pesisir Berau tersebut mendorong petambak untuk memanfaatkan sekitar 20 persen area sebagai kolam budidaya, sementara 80 persen sisanya dipertahankan atau direhabilitasi menjadi ekosistem mangrove.

Hasilnya, produktivitas tambak tidak mengalami penurunan. Sebaliknya, sejumlah petambak mencatat peningkatan hasil panen setelah menerapkan sistem tersebut.

Keberhasilan itu terlihat dari panen yang dilakukan pada awal Juni 2026 di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran. Salah seorang petambak, Abdul Rahman, berhasil memanen berbagai komoditas perikanan, mulai dari udang windu, udang bintik, bandeng hingga kepiting bakau dengan hasil yang dinilai cukup menggembirakan.

Bahkan produksi udang windu yang dihasilkan mengalami peningkatan dibandingkan sebelum menerapkan konsep budidaya berbasis ekosistem mangrove.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa keberhasilan usaha tambak tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga kualitas pengelolaan lingkungan dan penerapan teknik budidaya yang tepat.

“Ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi bisa dicapai tanpa harus membuka lahan baru. Pelestarian mangrove dan kegiatan budidaya dapat berjalan berdampingan,” ujarnya.

Menurutnya, program SECURE menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk diterapkan di kawasan pesisir Berau yang memiliki hamparan mangrove cukup luas. Selain menjaga keseimbangan lingkungan, program ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Dalam pelaksanaannya, para petambak mendapatkan pendampingan teknis secara berkelanjutan. Mulai dari pengelolaan kualitas air, pembuatan pupuk organik dan mikroorganisme lokal, hingga penerapan sistem nursery atau pendederan benih sebelum dipindahkan ke kolam pembesaran.

Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan tingkat keberhasilan budidaya sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat kematian benih.

Keberhasilan serupa juga dirasakan petambak di Kampung Suaran. Dengan menerapkan metode budidaya yang sama, hasil produksi udang yang diperoleh menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dan memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petambak.

Abdul Majid menegaskan bahwa keberadaan mangrove justru memiliki peran penting dalam menjaga kualitas lingkungan tambak. Ekosistem tersebut berfungsi sebagai penyangga alami yang membantu menjaga kestabilan kualitas air dan mendukung keberlangsungan budidaya dalam jangka panjang.

“Mangrove bukan penghalang bagi produktivitas tambak. Justru lingkungan yang sehat menjadi salah satu faktor utama yang mendukung keberhasilan budidaya,” katanya.

Melihat hasil yang telah dicapai, Dinas Perikanan Berau berharap model budidaya berbasis konservasi tersebut dapat diterapkan lebih luas oleh masyarakat pesisir. Selain meningkatkan kesejahteraan petambak, pendekatan itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian sumber daya alam pesisir untuk generasi mendatang.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya peningkatan produksi, tetapi usaha perikanan yang berkelanjutan, menguntungkan masyarakat, dan tetap menjaga lingkungan,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.